Selasa, 29 April 2008

Ashiram bin Abdil Asyhal

Dia Termasuk Ahli Surga
PERANG Badar telah usai. Kemenangan gemilang berpihak kepada kaum Muslimin. Padahal, semua musuh Islam bahkan dunia tahu, bahwa Islam belum lama tumbuh. Pengikutnya pun belum seberapa banyak.
Sukses perang yang pertama dalam Islam itu ditegaskan Allah SwT dalam al-Qur’an, “Agar Tuhan membuktikan yang hak (Islam) itu benar, dan membuktikan kepalsuan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukai.” (QS al-Anfaal: 8)
Memang, misi utama dari skenario perang yang dijalankan oleh Allah SwT adalah untuk membuktikan kebenaran risalah-Nya. Dan hal itu terbukti di Badar, tempat yang dijadikan medan bagi perang antara kedua belah pihak. Kaum Muslimin yang hanya berjumlah sekitar 300 orang dengan peralatan sederhana harus berhadapan dengan kaum musyrikin yang lebih dari 1.000 orang personil didukung peralatan yang lebih lengkap.
Tentunya itu menjadi sesuatu yang sangat tidak masuk akal, bila jumlah yang sedikit dapat mengalahkan jumlah yang jauh lebih banyak. Namun apa yang mustahil bagi Allah SwT jika Dia telah berkehendak? Tak ada satu pun yang mustahil bagi Allah. Bahkan seluruh orang di dunia ini tak akan mampu untuk membuat konsesi terhadap setiap putusan-Nya.
Kekalahan kaum musyrikin telah menunjukkan kebenaran risalah yang dibawah oleh Muhammad saw. Risalah yang dulu mereka injak-injak dan olok-olok itu, ternyata tidak seperti apa yang mereka sangkakan dulu. Ia bukan kebohongan, tetapi adalah kebenaran. Ia bukan provokasi menyesatkan, melainkan adalah cahaya yang menuntun kepada kebahagiaan.
Mata hati orang-orang yang meragukan ajaran Rasulullah Muhammad saw pun kini mulai terbuka. Mereka semakin yakin dengan Nubuwah dan Risalah Muhammad saw. Akibatnya berbondong-bondonglah orang yang menapaki jalan kebenaran itu. Terutama sekali penduduk Madinah, sehingga begitu pasukan Allah itu datang, mereka langsung memenuhi jalan-jalan di kota Madinah untuk menyambut Nabi saw dan para sahabat dengan sangat meriah. Walau begitu, masih banyak juga orang yang berdiri di sepanjang jalan yang tidak menyukai kemenangan umat Islam. Itulah kaum munafikin. Mereka terus mengumpat dalam hati atas keberhasilan tentara Allah SwT itu.
Sementara itu orang-orang yang dalam hati mereka melekat kuat ajaran-ajaran nenek-moyang mereka, tetap belum bisa menerima cahaya Islam. Mereka masih sulit untuk mneninggalkan keyakinan yang salah itu. Di antara sebabnya adalah karena tabiat mereka yang sangat teguh memegang adat, gengsi, atau hanya kejahiliyahan mereka saja.
Salah satu orang yang masih menolak masuk Islam adalah Ashiram bin Abdil Asyhal. Ia berasal dari Bani Abdil Asyhal.
***
Ketika panji Islam berkibar tinggi di Badar, sebenarnya Ashiram sudah mulai merasa yakin akan kebenaran ajaran Nabi saw. Namun perasaan itu terus disimpannya dalam hati. Meski setiap saat ia memang tidak pernah tenang, karena selalu diusik oleh panggilan suci yang bergema dalam jiwanya yang rindu.
Panggilan suci itu terus ditahannya, tetapi ternyata semakin ditahan malah menjadikannya semakin tersiksa. Akhirnya ia pun menumpahkan buncahan (kegelisahan, kekalutan, red) dahaga yang rindu akan “telaga” Ilahiyah itu dari jiwanya yang fitrah. Yakni, ketika rombongan Nabi saw berangkat menuju Uhud. Waktu itu Ashiram melihat betapa terangnya cahaya yang menyinari rombongan tersebut sampai keraguannya yang dulu hilang lenyap tak berbekas.
Ia kemudian bergegas menghampiri barisan kaum Muslimin itu. Di sana ia lalu menemui Rasulullah saw untuk menyatakan ke-Islamannya. Bahkan, ia juga langsung menegaskan kesediaannya untuk berjuang membela Islam sampai titik darah yang penghabisan. Tak lama kemudian perang Uhud pun meletus. Berkobarlah perang antara kebenaran dan kebatilan. Dan Ashiram, yang dulu berdiri di pihak yang batil, kini bertempur mati-matian membela kebenaran.
***
Ashiram yang telah menjadi Muslim dan Mukmin itu menebaskan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Ia terus maju dan tak pernah mundur. Keberaniannya sungguh luar biasa, sehingga setiap musuh yang berhadapan dengannya menjadi gentar dan ciut nyali.
Tetapi pada suatu saat yang menentukan, terjadilah takdir yang telah ditetapkan Allah bagi Ashiram. Sebuah senjata salah seorang musuh menembus tubuhnya. Dan tubuh yang sebelumnya berdiri tegak itu akhirnya terhuyung-huyung, lalu jatuh ke tanah.
Ketika perang berakhir, orang dari Bani Abdil Asyhal mencari saudara mereka dan menemukan Ashiram termasuk orang-orang yang hampir mati di tengah kaum Bani Abdil Asyhal yang terbunuh.
Kemudian mereka bertanya, “Apakah yang mendorong kamu untuk ikut dalam peperangan itu ? Apakah kamu ikut karena demi Islam ataukah kamu ikut untuk membela kaum Bani Abdil Asyhal?”
Ashiram menjawab, “Aku ikut berjuang itu demi Islam dan aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian aku ikut berjuang bersama Nabi sampai aku terkena senjata musuh seperti kamu saksikan ini.”
Setelah berkata demikian, tidak berapa lama wajah Ashiram yang cerah dengan senyum bahagia yang terpancar dari bibirnya, akhirnya lunglai lalu kaku. Ashiram telah mati. Padahal ia belum pernah shalat sama sekali semenjak ke-Islamannya. Tetapi, apa yang dikatakan Rasulullah saw ketika diberitahu tentang kejadian itu?
Waktu itu Rasulullah saw bersabda, “Orang itu termasuk ahli surga.” (Mahsun Sodiq)

Kiriman sdr. M Zoehry tgl 02/nov/2003

Tidak ada komentar: